Resistor

03.38 Unknown 0 Comments



1.     Pendahuluan
Disekitar lingkungan terdapat bermacam-macam bahan yang memiliki nilai resistansi masing-masing, namun beberapa bahan umumnya memiliki resistansi yang sangat kecil. Misalnya adalah tembaga, perak, emas, dan bahan metal. Bahan-bahan tersebut termasuk konduktor, yaitu bahan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan baik. Kebalikan dari bahan konduktif yaitu bahan material yang memiliki nilai resistansi lebih besar untuk menahan aliran elektron sehingga disebut sebagai isolator. Misalnya karet, gelas, dan karbon.
 2.      Definisi resistor
Resistor disebut juga tahanan dan adapula yang menamakan werstand (dari kata asing). Resistor adalah komponen elektronika yang berfungsi menghambat listrik dan dipakai dalam suatu rangkaian pesawat-pesawat elektronika.
Resistor dibuat dengan berbagai cara , misalnya dibuat dari kawat nikelin yang digulung sedemikian rupa dalam suatu kerangka. Resistor jenis ini tahan terhadap temperatur tinggi sehingga dapat digunakan instalasi arus ysng besar. Selain resistor jenis ini ada juga resistor yang dibuat dari bahan keramik atau karbon yang disemprotkan pada keramik. Resistor semacam ini kurang tahan terhadap temperatur tinggi sehingga hanya dapat digunakan untuk arus yang kecil (bidang elektronika.
Berdasarkan hukum Ohm dapat diketahui bahwa resistansi akan berbanding terbalik dengan jumlah arus yang melaluinya. Maka untuk menyatakan besarnya resistansi dari sebuah resistor dinyatakan dalam satuan Ohm yang dilambangkan dengan simbol Ω (Omega). Untuk menggambarkannya dalam suatu rangkaian dilambangkan dengan huruf R (standard international).

3.      Fungsi resistor
Didalam pesawat-pesawat elektronik sering dijumpai resistor untuk berbagai kegunaan, antara lain :
a.       Menahan sebagian arus listrik sesuai dengan kebutuhan suatu rangkaian elektronika
b.      Untuk menentukan besarnya tegangan pada rangkaian
c.       Sebagai pengatur nada tinggi (tribble) dan nada rendah (bass)
d.      Untuk mengatur volume suara, misalnya pada amplifier dan radio
e.       Bekerja sama dengan kondensator dan transistor dalam suatu  rangkaian untuk membangkitkan frekuensi tinggi dan frekuensi rendah

Nilai daya maksimum yang mampu dilewatkan oleh resistor disebut dengan kapasitas daya resistor. Nilai kapasitas daya resistor dapat diketahui dari ukuran fisik resistor dan tulisan kapasitas daya dalam satuan Watt untuk resistor dengan kemasan fisik besar. Penentuan kapasitas daya resistor ini berfungsi untuk menghindari resistor rusak karena terjadi kelebihan daya yang mengalir sehingga resistor terbakar dan sebagai bentuk efisiensi biaya dan tempat dalam pembuatan rangkaian elektronika.

5.        Jenis-jenis Resistor
Dilihat dari konduksinya, ada resistor yang dapat diatur harga ohm-nya dan ada yang tidak, yaitu :
a.       Resistor statis / tetap (Fixed Resistor)
Resistor ini memiliki nilai yang tetap. Rata-rata resistor terbuat dari bahan arang karbon tetapi ada juga yang terbuat dari kawat nikelin. Resistor arang tidak tahan terhadap arus dan daya listrik yang besar, sedangkan resistor kawat lebih tahan terhadap arus dan daya listrik yang besar. Resistor jenis ini sering digunakan pada pesawat elektronik yang menggunakan daya listrik yang cukup besar, misalnya pemancar dengan daya pancar yang besar.
Nilai dari resistor statis telah ditentukan pada waktu pembuatannya dengan diwakili oleh cincin warna atau kode huruf. Cincin-cincin ini sebagai kode nilai resistansi/ hambatan, jadi warna cincin-cincin resistor akan berbeda pada tiap ukurannya.
b.      Resistor Variabel (Variable Resistor)
     Resistor variabel adalah resistor yang nilainya dapat diatur sesuai rentang / range jangkauan kemampuan resistor tersebut. Macam-macam variabel resistor :
1)        Potensiometer
Potensiometer adalah resistor yang nilai tahananya dapat diubah-ubah dengan cara menggeser (potensiometer geser) atau memutar tuasnya (potensiometer karbon) atau memutar celah/lubang pada badan komponen dengan obeng (trimpot). Penggunaan tuas dimaksudkan bahwa rangkaian yang menggunakan potensiometer ini sering dilakukan pengaturan dan ditujukan untuk pemakai pada pesawat televisi.
2)      LDR (Light Dependent Resistor)
LDR merupakan resistor peka cahaya (foto resistor) sehingga nilai tahanannya akan berubah jika terkena cahaya. Komponen ini terbuat dari bahan film kadmidium sulfida yang memiliki nilai tahanan cukup besar ditempat gelap dan jika terkena cahaya maka nilai tahanannya akan menurun.
Foto resistor biasanya digunakan dalam suatu rangkaian pembagi potensial yang menyebabkan terjadinya perubahan tegangan apabila komponen ini terkena cahaya. Selain itu, foto resistor juga digunakan dalam rangkaian alat penghitung otomatis bagi pengunjung suatu pertunjukan pada malam hari.
3)      NTC (Negative Temperature Coefficient)
NTC termasuk jenis thernistor, yaitu resistor yang nilai tahanannya dipengaruhi suhu, dimana saat suhu rendah maka nilai tahanannya sangat besar tetapi saat suhu tinggi nilai tahanannya akan sangat kecil bahkan nol.
4)      PTC (Positive Temperature Coefficient)
PTC juga termasuk jenis thermistor, dimana saat suhu rendah maka nilai tahanannya sangat kecil, tetapi saat suhu tinggi maka nilai tahanannya juga sangat besar.
5)      VDC (Voltage Dependent Resistor)
VDC ini biasanya disebut resistor yang bergantung pada tegangan. Apabila tegangan yang melaluinya dinaikkan, nilai tahanannya akan berkurang dan perubahan tahanan ini tidak linier. Sedangkan jika tegangan ini digandakan maka nilai tahanan akan menurun sampai  ukuran tahanan semula. Berdasarkan hal tersebut  VDR dapat digunakan untuk menahan tegangan yang naik secara cepat dan tiba-tiba sehingga komponen-komponen yang lain terlindungi. VDR akan sangat cocok digunakan sebagai stabilizer bagi komponen transistor.

 
                            
                        PTC dan NTC                           LDR                                  VDC
 
Gambar 2.1 Macam-macam variabel resistor
 
                  Gambar 2.2 Simbol-simbol resistor

6.      Kode Warna dan Huruf Pada Resistor
Ø Kode Warna
Resistor karbon diberi kode warna yang melingkar pada badan resistor untuk mempermudah penentuan ukuran nilai tahanannya. Kode warna ini ditentukan oleh RMA (Ratio Manuvaktures Association) yang merupakan perkumpulan pabrik-pabrik radio di Eropa dan Amerika.
Nilai toleransi adalah nilai yang menunjukkan berkurang atau bertambah sekian persen dari nilai ohm nominal resistor tersebut masih dapat digunakan. Misalnya, bila sebuah resistor diketahui bernilai 120 ohm dengan nilai toleransi 10% berarti bila nilainya bertambah atau berkurang sebesar 12 ohm dari nilai semula, resistor tersebut masih dapat digunakan.
Dari cicin warna yang terdapat dari suatu resistor tersebut memiliki arti dan nilai dimana nilai resistansi resistor dengan kode warna yaitu:
Maka cincin ke 1 dan ke 2 merupakan digit angka, dan cincin kode warna ke 3 merupakan faktor pengali kemudian cincin kode warna ke 4 menunjukan nilai toleransi resistor.
Maka cincin ke 1, ke 2 dan ke 3 merupakan digit angka, dan cincin kode warna ke 4 merupakan faktor pengali kemudian cincin kode warna ke 5 menunjukan nilai toleransi resistor.
Resistor dengan 6 cicin warna pada prinsipnya sama dengan resistor dengan 5 cincin warna dalam menentukan nilai tahanannya. Cincin ke 6 menentukan koefisien temperatur yaitu temperatur maksimum yang diijinkan untuk resistor tersebut.

 
Gambar 2.3 Cara membaca kode warna pada resistor

Resistor dengan kode huruf dapat dibaca nilai resistansinya dengan mudah karena nilai tahanan dituliskan secara langsung. Pada umumnya resistor yang dituliskan dengan kode huruf memiliki urutan penulisan kapasitas daya, nilai resistansi dan toleransi resistor. Kode huruf digunakan untuk penulisan nilai resistansi dan toleransi resistor.
 
                                   Gambar 2.4 Cara membaca kode huruf pada resistor
 
Kode Huruf Untuk Nilai Resistansi :
§  R, berarti x1 (Ohm)
§  K, berarti x1000 (KOhm)
§  M, berarti x 1000000 (MOhm)
Kode Huruf Untuk Nilai Toleransi :
§  F, untuk toleransi 1%
§  G, untuk toleransi 2%
§  J, untuk toleransi 5%
§  K, untuk toleransi 10%
§  M, untuk toleransi 20%

7.      Hukum Ohm
“Besar arus listrik (I) yang mengalir melalui sebuah penghantar atau Konduktor akan berbanding lurus dengan beda potensial / tegangan (V) yang diterapkan kepadanya dan berbanding terbalik dengan hambatannya (R)”.
Dibawah ini beberapa rumus (Hukum Ohm) yang sering dipakai dalam perhitungan elektronika :
Ketarangan :
V = tegangan (Volt)
I = arus (Ampere)
R = resistansi (Ohm)
P = daya (Watt)
Konversi satuan :
1 Ohm = 1
1 K Ohm = 1 K Ω
1 K Ω = 1.000 Ω
M = Mega ( ); K = Kilo ( )

You Might Also Like

0 komentar: