Resistor
1. Pendahuluan
Disekitar lingkungan terdapat
bermacam-macam bahan yang memiliki nilai resistansi masing-masing, namun
beberapa bahan umumnya memiliki resistansi yang sangat kecil. Misalnya adalah tembaga,
perak, emas, dan bahan metal. Bahan-bahan tersebut termasuk konduktor, yaitu
bahan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan baik. Kebalikan dari bahan
konduktif yaitu bahan material yang memiliki nilai resistansi lebih besar untuk
menahan aliran elektron sehingga disebut sebagai isolator. Misalnya karet,
gelas, dan karbon.
2.
Definisi resistor
Resistor disebut juga tahanan dan
adapula yang menamakan werstand (dari kata asing). Resistor adalah komponen
elektronika yang berfungsi menghambat listrik dan dipakai dalam suatu rangkaian
pesawat-pesawat elektronika.
Resistor dibuat dengan berbagai cara
, misalnya dibuat dari kawat nikelin yang digulung sedemikian rupa dalam suatu
kerangka. Resistor jenis ini tahan terhadap temperatur tinggi sehingga dapat
digunakan instalasi arus ysng besar. Selain resistor jenis ini ada juga
resistor yang dibuat dari bahan keramik atau karbon yang disemprotkan pada
keramik. Resistor semacam ini kurang tahan terhadap temperatur tinggi sehingga
hanya dapat digunakan untuk arus yang kecil (bidang elektronika.
Berdasarkan hukum Ohm dapat
diketahui bahwa resistansi akan berbanding terbalik dengan jumlah arus yang
melaluinya. Maka untuk menyatakan besarnya resistansi dari sebuah resistor
dinyatakan dalam satuan Ohm yang dilambangkan dengan simbol Ω (Omega). Untuk menggambarkannya
dalam suatu rangkaian dilambangkan dengan huruf R (standard international).
3.
Fungsi resistor
Didalam pesawat-pesawat elektronik sering dijumpai resistor untuk berbagai
kegunaan, antara lain :
a.
Menahan sebagian arus listrik sesuai dengan kebutuhan
suatu rangkaian elektronika
b.
Untuk menentukan besarnya tegangan pada rangkaian
c.
Sebagai pengatur nada tinggi (tribble) dan nada rendah
(bass)
d.
Untuk mengatur volume suara, misalnya pada amplifier
dan radio
e.
Bekerja sama dengan kondensator dan transistor dalam
suatu rangkaian untuk membangkitkan
frekuensi tinggi dan frekuensi rendah
Nilai daya maksimum yang mampu dilewatkan
oleh resistor disebut dengan kapasitas daya resistor. Nilai kapasitas daya
resistor dapat diketahui dari ukuran fisik resistor dan tulisan kapasitas daya
dalam satuan Watt untuk resistor dengan kemasan fisik besar. Penentuan
kapasitas daya resistor ini berfungsi untuk menghindari resistor rusak karena
terjadi kelebihan daya yang mengalir sehingga resistor terbakar dan sebagai
bentuk efisiensi biaya dan tempat dalam pembuatan rangkaian elektronika.
5.
Jenis-jenis Resistor
Dilihat dari konduksinya, ada resistor yang dapat
diatur harga ohm-nya dan ada yang tidak, yaitu :
a.
Resistor statis / tetap (Fixed Resistor)
Resistor ini memiliki nilai yang tetap. Rata-rata resistor
terbuat dari bahan arang karbon tetapi ada juga yang terbuat dari kawat
nikelin. Resistor arang tidak tahan terhadap arus dan daya listrik yang besar,
sedangkan resistor kawat lebih tahan terhadap arus dan daya listrik yang besar.
Resistor jenis ini sering digunakan pada pesawat elektronik yang menggunakan
daya listrik yang cukup besar, misalnya pemancar dengan daya pancar yang besar.
Nilai dari
resistor statis telah ditentukan pada waktu pembuatannya dengan diwakili oleh
cincin warna atau kode huruf. Cincin-cincin ini sebagai kode nilai resistansi/
hambatan, jadi warna cincin-cincin resistor akan berbeda pada tiap
ukurannya.
b.
Resistor Variabel (Variable Resistor)
Resistor
variabel adalah resistor yang nilainya dapat diatur sesuai rentang / range
jangkauan kemampuan resistor tersebut. Macam-macam variabel resistor :
1)
Potensiometer
Potensiometer adalah resistor yang nilai tahananya
dapat diubah-ubah dengan cara menggeser (potensiometer geser) atau memutar tuasnya
(potensiometer karbon) atau memutar celah/lubang pada badan komponen dengan
obeng (trimpot). Penggunaan tuas dimaksudkan bahwa rangkaian yang menggunakan
potensiometer ini sering dilakukan pengaturan dan ditujukan untuk pemakai pada
pesawat televisi.
2)
LDR (Light Dependent Resistor)
LDR merupakan resistor peka cahaya (foto resistor)
sehingga nilai tahanannya akan berubah jika terkena cahaya. Komponen ini
terbuat dari bahan film kadmidium sulfida yang memiliki nilai tahanan cukup
besar ditempat gelap dan jika terkena cahaya maka nilai tahanannya akan
menurun.
Foto resistor biasanya digunakan dalam suatu rangkaian
pembagi potensial yang menyebabkan terjadinya perubahan tegangan apabila
komponen ini terkena cahaya. Selain itu, foto resistor juga digunakan dalam
rangkaian alat penghitung otomatis bagi pengunjung suatu pertunjukan pada malam
hari.
3)
NTC (Negative Temperature Coefficient)
NTC termasuk jenis thernistor, yaitu resistor yang
nilai tahanannya dipengaruhi suhu, dimana saat suhu rendah maka nilai
tahanannya sangat besar tetapi saat suhu tinggi nilai tahanannya akan sangat
kecil bahkan nol.
4)
PTC (Positive Temperature Coefficient)
PTC juga termasuk jenis thermistor, dimana saat suhu
rendah maka nilai tahanannya sangat kecil, tetapi saat suhu tinggi maka nilai
tahanannya juga sangat besar.
5)
VDC (Voltage Dependent Resistor)
VDC ini biasanya disebut resistor yang bergantung pada
tegangan. Apabila tegangan yang melaluinya dinaikkan, nilai tahanannya akan
berkurang dan perubahan tahanan ini tidak linier. Sedangkan jika tegangan ini
digandakan maka nilai tahanan akan menurun sampai
ukuran tahanan
semula. Berdasarkan hal tersebut VDR
dapat digunakan untuk menahan tegangan yang naik secara cepat dan tiba-tiba
sehingga komponen-komponen yang lain terlindungi. VDR akan sangat cocok
digunakan sebagai stabilizer bagi komponen transistor.
PTC dan NTC LDR VDC
|
Gambar
2.1 Macam-macam variabel resistor
Gambar
2.2 Simbol-simbol resistor
6. Kode
Warna dan Huruf Pada Resistor
Ø Kode
Warna
Resistor karbon diberi kode warna yang melingkar
pada badan resistor untuk mempermudah penentuan ukuran nilai tahanannya. Kode
warna ini ditentukan oleh RMA (Ratio Manuvaktures Association) yang merupakan
perkumpulan pabrik-pabrik radio di Eropa dan Amerika.
Nilai toleransi adalah nilai yang menunjukkan
berkurang atau bertambah sekian persen dari nilai ohm nominal resistor tersebut
masih dapat digunakan. Misalnya, bila sebuah resistor diketahui bernilai 120
ohm dengan nilai toleransi 10% berarti bila nilainya bertambah atau berkurang sebesar
12 ohm dari nilai semula, resistor tersebut masih dapat digunakan.
Dari cicin warna yang terdapat dari suatu resistor
tersebut memiliki arti dan nilai dimana nilai resistansi resistor dengan kode
warna yaitu:
Maka
cincin ke 1 dan ke 2 merupakan digit angka, dan cincin kode warna ke 3
merupakan faktor pengali kemudian cincin kode warna ke 4 menunjukan nilai
toleransi resistor.
Maka
cincin ke 1, ke 2 dan ke 3 merupakan digit angka, dan cincin kode warna ke 4
merupakan faktor pengali kemudian cincin kode warna ke 5 menunjukan nilai
toleransi resistor.
Resistor
dengan 6 cicin warna pada prinsipnya sama dengan resistor dengan 5 cincin warna
dalam menentukan nilai tahanannya. Cincin ke 6 menentukan koefisien temperatur
yaitu temperatur maksimum yang diijinkan untuk resistor tersebut.
Gambar
2.3 Cara membaca kode warna pada resistor
Resistor dengan kode huruf dapat dibaca nilai
resistansinya dengan mudah karena nilai tahanan dituliskan secara langsung.
Pada umumnya resistor yang dituliskan dengan kode huruf memiliki urutan
penulisan kapasitas daya, nilai resistansi dan toleransi resistor. Kode huruf
digunakan untuk penulisan nilai resistansi dan toleransi resistor.
Kode Huruf Untuk Nilai Resistansi :
§
R, berarti x1 (Ohm)
§
K, berarti x1000 (KOhm)
§
M, berarti x 1000000 (MOhm)
Kode Huruf
Untuk Nilai Toleransi :
§
F, untuk toleransi 1%
§
G, untuk toleransi 2%
§
J, untuk toleransi 5%
§
K, untuk toleransi 10%
§
M, untuk toleransi 20%
7. Hukum
Ohm
“Besar
arus listrik (I) yang mengalir melalui sebuah penghantar atau Konduktor akan
berbanding lurus dengan beda potensial / tegangan (V) yang diterapkan kepadanya
dan berbanding terbalik dengan hambatannya (R)”.
Dibawah
ini beberapa rumus (Hukum Ohm) yang sering dipakai dalam perhitungan
elektronika :
Ketarangan :
V = tegangan (Volt)
I = arus (Ampere)
R = resistansi (Ohm)
P = daya (Watt)
Konversi satuan :
1 Ohm = 1 Ω
1 K Ohm = 1 K Ω
1 K Ω = 1.000 Ω
M = Mega (
); K = Kilo (
)

0 komentar: